Marfuatul Asma : Isim-Isim Yang Dirafa'kan | Kitab Al Jurumiyah

Marfuatul Asma atau Isim-Isim Yang Dirafa'kan -Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas tentang Bab Isim-Isim Yang Dirafa'kan atau sering disebut Marfuatul Asma. Pembahasan ini kami rangkum dari kitab nahwu yang sangat populer, yaitu Kitab Al Jurumiyah dan Al Imrithi.
Marfuatul Asma atau Isim-Isim Yang Dirafa'kan
الْمَرْفُوْعَاتُ سَبْعَةٌ وَهِيَ الْفَاعِلُ وَالْمَفْعُوْلُ الَّذِيْ لَمْ يُسَمَّ فَاعِلُهُ وَالْمُبْتَدَأُ وَخَبَرُهُ وَاسْمُ كَانَ وَاَخَوَاتُهَا وَخَبَرُ إنَّ وَأَخَوَاتُهَا وَالتَّابِعُ لِلْمَرْفُوْعِ وَهُوَ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ النَّعْتُ وَالتَّوْكِيْدُ وَالْعَطْفُ وَالْبَدَلُ
Isim-isim yang dirafa'kan ada tujuh macam, yaitu : fa'il, maf'ul yang tidak disebutkan fa'ilnya (naibul fa'il), mubtada' dan khabarnya, isim kaana dan saudara-saudaranya, khabar inna dan saudara-saudaranya, dan lafad yang mengikuti kalimat yang dirafa'kan, yaitu ada empat macam sebagai berikut : na'at, taukid, 'athaf, dan badal.
1. Fa'il
Fa'il merupakan isim marfu' yang disebutkan sesudah fi'ilnya (fi'il yang merafa'kannya).
Contoh : جَاءَ زَيْدٌ ; lafad جَاءَ fi'il madhi dan lafad زَيْدٌ menjadi fa'ilnya.
2. Maf'ul yang tidak disebutkan fa'ilnya (Naibul Fa'il)
Naibul fa'il merupakan isim marfu' yang tidak disebutkan fa'ilnya. Naibul fa'il disebut juga mabni majhul atau naibul fa'il, yaitu isim yang asalnya menjadi maf'ul lalu fa'ilnya dibuang dan maf'ulnya menggantikan kedudukan fa'il, i'rabnya dirafa'kan dan diletakkan sesudah fi'il.
Contoh : نُصِرَ اَحْمَدُ (Ahmad telah ditolong)
Asalnya : نَصَرَ زَيْدٌ اَحْمَدُ lafad نُصِرَ fi'il madhi mabni maf'ul dan اَحْمَدُ maf'ul yang tidak disebutkan fa'ilnya (naibul fa'il).
3. Mubtada'
Mubtada' adalah isim marfu' yang bebas dari amil lafad, yakni yang merafa'kan mubtada' itu bukan amil lafad, seperti fa'il atau naibul fa'il, melainkan dirafa'kan oleh amil maknawi, yaitu ibtida' atau permulaan kalimat.
4. Khabar
Khabar adalah isim marfu' yang dimusnadkan atau disandarkan kepada mubtada', yakni tidak akan ada khabar jika tidak ada mubtada' dan mubtada' itulah yang merafa'kan khabar.
Contoh : زَيْدٌ قَائِمٌ (Zaid berdiri)
Lafad زَيْدٌ adalah mubtada' dan lafad قَائِمُ adalah khabarnya.
5. Isim Kaana dan Saudara-Saudaranya
Kaana dan Saudara-Saudaranya berfungsi merafa'kan isimnya dan menashabkan khabarnya. Adapun saudara-saudara Kaana yaitu : كَانَ (adalah/keadaan) ; اَمْسَى (waktu sore hari) ; اَصْبَحَ (waktu pagi) ; اَضْحَى (waktu dhuha) ; ظَلَّ (waktu siang hari) ; بَاتَ (waktu malam hari) ; صَارَ (menjadikan) ; لَيْسَ (meniadakan) ; مَازَالَ مَااَنْفَكَ مَافَتِئَ مَابَرِحَ (tidak terputus-putus) مَادَامَ (tetap dan terus-menerus) dan lafad-lafad yang bisa di-tashrif darinya, misalnya : كَانَ - يَكُوْنُ - كُنْ
Contoh : كَانَ زَيْدٌ قَائِمًا (adalah Zaid berdiri), لَيْسَ عَمْرٌو شَاخِصًا (tiadalah 'Amr menampakkan diri) dan lafad yang menyerupainya.
6. Khabar Inna dan Saudara-Saudaranya
Inna dan Saudara-Saudaranya berfungsi menashabkan isimnya yang berasal dari mubtada' dan merafa'kan khabarnya yang berasal dari khabar mubtada'. Adapun Saudara-Sauda Inna yaitu : اِنَّ ; اَنَّ ; لَكِنَّ ; كَأَنَّ ; لَيْتَ ; لَعَلَّ
Keterangan :
1. اِنَّ dan اَنَّ untuk taukid (mengukuhkan pembicaraan)
Contoh : اِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ (sesungguhnya Zaid berdiri)
2. لَكِنَّ untuk istidrak (susulan), yaitu menyusul perkataan yang lalu dengan perkataan yang ada di belakangnya
Contoh : جَاءَ القَوْمُ وَلَكِنَّ زَيْدًا مُتَأَخِّرٌ (kaum itu telah datang, tetapi Zaid belakangan)
3. كَأَنَّ untuk tasybih (menyerupakan)
Contoh : كَأَنَّ زَيْدًا قَمَرٌ (Zaid bagaikan rembulan)
4. لَيْتَ untuk tamanni, yaitu mengharapkan sesuatu yang mustahil berhasil
Contoh : لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ يَوْمًا (seandainya masa muda dapat kembali pada suatu hari saja)
5. لَعَلَّ untuk tarajji dan tawaqqu',
Tarajji ialah mengharapkan sesuatu yang baik, yang mungkin berhasil
Contoh Tarajji : لَعَلَّ الحَبِيْبَ قَادِمٌ (mudah-mudahan kekasih itu datang)
Sedangkan tawaqqu' hanya dipakai untuk hal-hal yang menyangkut yang tidak disukai.
Contoh Tawaqqu’ : لَعَلَّ العَدُوَّ هَالِكٌ (semoga musuh itu binasa)
7. Lafad yang mengikuti kalimat yang dirafa'kan
Lafad yang mengikuti kalimat yang dirafa'kan ada empat macam, yaitu:
a. Na'at (sifat)
Na'at adalah lafad yang mengikuti kepada makna lafad yang diikutinya, baik dalam hal rafa', nashab, khafad (jer), ma'rifat maupun nakirahnya.
Contoh : قَامَ زَيْدٌ العَاقِلُ (aku telah melihat Zaid yang berakal), مَرَرْتُ بِزَيْدٍ العَاقِلِ (aku telah bersua dengan Zaid yang berakal)
b. Taukid
Taukid ialah tabi' (lafad yang mengikuti) yang berfungsi untuk melenyapkan anggapan lain yang berkaitan dengan lafad yang di-taukid-kan.
Contoh : جَاءَ زَيْدٌ نَفْسُهُ (Zaid telah datang sendiri)
Lafad نَفْسُهُ berkedudukan sebagai taukid yang mengukuhkan makna Zaidun, sebab jika tidak memakai نَفْسُهُ, maka ada kemungkinan yang datang itu utusan Zaid, bukan Zaidnya, dan sebagainya.
c. 'Athaf
'Athaf ialah tabi' (lafad yang mengikuti) yang antara ia dan matbu'nya ditengah-tengahi oleh salah satu huruf 'athaf. Huruf 'athaf ada sepuluh, yaitu : وَاوُ ; فَاءُ ; ثُمَّ ; اَوْ; اَمْ ; اِمَّا ; بَلْ ; لَكِنَّ ; لاَ ; حَتَّى
Contoh : جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو (telah datang Zaid dan ‘Amr (bersamaan))
d. Badal
Badal ialah tabi' (lafad yang mengikuti) yang dimaksud dengan hukum tanpa memakai perantara antara ia dan matbu'nya.
Badal terbagi menjadi empat bagian, yaitu :
1) Badal syai’ minasy syai’
Disebut juga badal kul minal kul atau badal yang cocok dan sesuai denganmubdal minhu-nya dalam hal makna.
Contoh : جَاءَ زَيْدٌ اَخُوْكَ (Zaid telah datangm yakni saudaramu)
Lafad saudaramu menjadi badal dari lafad Zaid. Antara lafad Zaid dan Saudaramu itu cocok dan sesuai.
2) Badal Ba’du minal kul (badal sebagian dari semuanya)
Contoh : اَكَلْتُ الرَّغِيْفَ ثُلُثَهُ (aku telah memakan roti itu sepertiganya (bukan semuanya))
Lafad ثُلُثَهُ (sepertiga) itu disebut badal (pengganti), sedangkan lafad الرَّغِيْفَ (roti) disebut mubdal minhu (yang digantikan).
3) Badal Isytimal
Yaitu lafad yang mengandung makna bagian dari matbu’nya, tetapi menyangkut masalah maknawi (bukan materi)
Contoh : نَفَعَنِي زَيْدٌ عِلْمُهُ (Zaid telah bermanfaat bagiku yakni ilmunya)
4) Badal Ghalat (badal keliru/salah)
Yaitu badal yang tidak mempunyai maksud yang sama dengan matbu’nya, tetapi yang dimaksud hanyalah badal. Hal ini dikatakan hanya karena kekeliruan atau kesalahan semata yang dilakukan oleh pembicara, setelah itu lalu ia menyebutkan mubdal minhu-nya.
Contoh : رَاَيْتُ زَيْدًا الفَرَسَ (aku telah melihat Zaid yakni kuda)
Dalam contoh di atas, pembicara ingin mengucapkan (bahwa pembicara telah melihat) kuda, akan tetapi pembicara keliru (dalam ucapan karena menyebutkan Zaid) lalu pembicara mengganti lafad Zaid dengan kuda. Maksud yang sebenarnya ialah : رَاَيْتُ الفَرَسَ (aku telah melihat kuda).

Demikian pembahasan mengenai Bab Isim-Isim Yang Dirafa'kan (Marfuatul Asma). Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Untuk artikel selanjutnya kami akan sajikan pembahasan tentang Bab Isim-Isim Yang Dinashabkan (Manshubatul Asma), InsyaAllah.